Kamis, 22 November 2012

arsitek gedung DPR




Makna Filosofis Arsitektur Gedung DPR dan Monas

Makna Filosofis Arsitektur Gedung DPR dan Monas

REP | 11 April 2011 | 13:24 Dibaca: 795   Komentar: 2   Nihil
Penggagas pembangunan gedung DPR-RI dan Monumen Nasional (Monas) yang menjulang tinggi di Lapangan Merdeka , depan Istana Merdeka itu, adalah Bung Karno, Presiden RI pertama. Mulai dirancang tahun 1950-an dengan didukung oleh sejumlah arsitek jempolan pada waktu itu. Sebagai seniman dan insinyur sipil, BK tidak mau membangun monumen tanpa dasar filosofi yang bersumber pada sejarah budaya Indonesia. Ternyata, wujud gedung DPR-RI dan Monas, didasarkan pada budaya Hindu kuno. Jika gedung DPR-RI melambangkan  yoni  atau alat vital perempuan (vagina), maka Monas melambangkan lingga atau  alat vital laki-laki (phallus). Tentu saja wujud kedua lambang tersebut tidak ditampilkan secara nyata (realis), tetapi dibuat  secara absurd atau samar.
Vagina atau lubang peranakan, alias ‘jalan bayi saat lahir’, memiliki bagian yang disebut labium atau labia, atau bibir vagina. Dan bibir vagina itu sendiri terbagi dua bagian majus (majora) dan minus (minora).
Lalu bagaimana kaitannya kedua alat kelamin tersebut dengan teori politik? Sekarang, lihatlah dulu bentuk Monas. Dia adalah lambang lingga (phallus). Dia melambangkan laki-laki atau ayah. Itu sebabnya Monas dibangun di dekat Istana Merdeka. Si ayah menggambarkan pihak eksekutif maka tempatnya di Istana Merdeka. Kemudian lihatlah bentuk gedung DPR-RI. Bukankah dia memiliki unsur-unsur bentuk yoni atau vagina dan labium. Perhatikan sekali lagi! Gedung DPR-RI yang berada di Senayan tersebut. Dia dilambangkan sebagai ibu (secara politis, dia adalah legislatif). Sang ibulah tempat melahirkan anak (Undang-Undang) setelah bekerjasama dengan sang ayah (eksekutif) yang ada di Istana Merdeka.
Demikianlah makna filosofis gedung DPR-RI dan Monas yang ada di Jakarta. Jadi atap gedung DPR-RI tersebut melambangkan yoni, bukan ‘bokong orang tengkurep’ atau ‘bathok kura-kura’ .Selain proklamator, BK memang seorang seniman-budayawan ulung!               

 Penulis: Widodo DS /27 Maret 2011-  widodods@yahoo.com – telp 0271 649 8060                        

Arsitek Gedung Baru DPR Bantah Tiru Chile

Arsitek Gedung Baru DPR Bantah Tiru Chile  

TEMPO Interaktif, Jakarta -Arsitek gedung baru DPR Budi Asdar Sukada membantah desain gedung baru untuk DPR meniru gedung parlemen Chile. "Huruf U terbalik itu dibiking orang dimana-mana, kami tidak niru," kata Budi saat dihubungi Tempo, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, desain gedung baru itu dirancang sepenuhnya oleh tim arsitek yang seluruhnya orang Indonesia. Desain U terbalik itu melambangkan sebuah filosofi atas keberadaan DPR. "Kami mengambil U terbalik itu dengan mengambil filosofi gerbang. Ini melambangkan DPR sebagai gerbang aspirasi rakyat menuju masa depan yang lebih baik," kata dia.

Budi menceritakan, desain gedung baru dirancang selama dua tahun sejak 2007. Proses selama itu dilakukan sejak inisiasi, survei lapangan, serta memperhitungkan kebutuhan dan kapasitas gedung baru. Jumlah tim yang mendukung desain itu mencapai puluhan orang dengan latar belakang pendidikan teknik arsitektur dan sipil.
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendesain baru? "Wah saya tidak tahu. Saya bukan bagian yang mengurusi perduitan," kata Budi.

Disebut-sebut, total biaya yang dikeluarkan dalam perencanaan gadung baru itu mencapai Rp 18 miliar. Namun, jumlah itu dibantah Sekretaris Jenderal DPR Nining Indrasaleh. Dalam keterangan pers beberapa waktu lalu, dia mengatakan jumlah yang telah dikeluarkan untuk merancang gedung itu adalah Rp 14,7 miliar.

Meski merancang dengan memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit, Budi mengaku tidak tahu apakah rancangannya akan tetap digunakan atau tidak. Sebab, sejak dinyatakan bahwa pembangunan gedung baru ditunda sejak Oktober lalu, hingga kini Budi tidak pernah lagi berhubungan dengan Sekretariat Jenderal DPR. "Saya tidak tahu lagi perkembangannya," kata dia.

Budi juga mengaku tidak tahu apakah pihaknya akan dilibatkan kembali untuk segera membangun gedung baru. "Saya tidak tahu," ujar dia singkat.
Sebagaimana diketahui, proses pembangunan gedung baru akan mulai dilaksanakan kembali pada tahun 2011 ini. Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso memperkirakan proses peletakan batu pertama pembangunan gedung baru akan dilakukan Juni 2011.

Amirullah